Sunday, July 30, 2006

Morning Morning


"In the morning you'll be alright... In the morning sun shine its bright..." Sepenggal lagu yang sering diputer di Onecubed... Gatau persis judulnya 'n siapa yang nyanyi hehehe...


Sabtu malem kemaren lusa, aku sempet baca bukunya Michelle McKinney hammond yang judulnya "The Power of Feminity" itu, yang paling ngena tuh waktu aku baca tentang musim or masa. Like Pengkotbah 3:1 said: "To every thing there is a season, and a time for every purpose under the heavens." (New King James Version) 'n "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." 


Michelle ngupas kisahnya Ruth, Abigail (mantan istrinya Nabal yang akhirnya dipinang ama Daud)... Karakter 'n iman mereka, juga keputusan mereka untuk hidup sepenuhnya dalam 1 musim kehidupan mereka-lah yang akhirnya mengantarkan mereka ke masa depan yang sebelumnya ga pernah mereka bayangkan. Michelle juga menyinggung kisahnya JC. Aku langsung ngeh 'n klik, ternyata emang Dia tuh dah ngalamin 'n pernah ngerasain semua yang pernah kita alamin 'n rasain. Bukan cuman Yusuf yang pernah jadi perantauan 'n be a stranger in a strange place, He did too!!! Gimana aku bisa lupa yah hehehe...


His story bener-bener knock me out, Dia ngalamin yang jauuuuuhh lebih berat... Imagine gimana Someone yang perfectnya kayak Dia, harus hidup dalam segala ketidaksempurnaan kondisi 'n juga harus stay ama orang-orang yang ga sempurna? Itu susah banget... Kita aja yang sama-sama manusia yang ga perfect masih sering kles ama orang laen... But He knows exactly apa tujuan hidupNya di dunia, Dia tau bahwa Dia ada di dalam satu masa. Walopun Dia merindukan buat balik ke Surga (Rumah asliNya), tapi Dia enjoy 'n hidup di masa itu dengan maksimal, dengan sepenuhnya. Dia tahu bahwa Dia pasti bakal balik lagi ke Surga, tapi Dia ga menghitung hari atau menahan nafas sampai saat itu tiba. Dia bener-bener hidup sepenuhnya dalam rentang waktu dimana Dia harus berkarya di bumi.


Like that not enough... Minggu malem kemaren, pas waktu di bus shuttle Lippo on da way home, aku kan duduk ama Kak Febri, temen komsel. 3 minggu lalu aku minjemin fotokopian blog-ku ke dia. Kemaren itu dia ngomentarin blogku 'n akhirnya jadi share 'n ngobrol panjang. I'll straight to the point here (coz emang ada cerita-cerita yang ga aku expose  soalnya rada private bow hehehe...), tentang what I feel sejak aku di Lippo Cikarang. Dia pernah ngalamin kesepian yang kayak aku, pernah juga berusaha cari temen-temen yang klik, tapi ga ada yang sesuai harapannya 'n waktu dia tanya God, God cuman bilang "I wanna deal with you..." Sering God baru bisa ngomong ama kita or berurusan ama kita waktu kita sedang sendirian, bukan waktu kita ada di tengah keramaian or waktu kita lagi asyik ama temen-temen (bukannya ga mungkin, tapi jarang kan...). Sejak itu, dia mulai enjoy 'n membiasakan dirinya ama kondisinya, and you know what? Justu di saat itulah (saat dia dan mulai bisa enjoy 'n bersyukur dalam kondisinya saat ini) God mulai mempertemukan dia ama temen-temen baru yang nyambung... God mau kita depend on Him only... not depend on people... Coz gimanapun juga kebahagiaan yang sejati itu sumbernya cuman dari Dia, bukan dari orang-orang. And I'm thank God for this... coz emang beneran kondisi ini jadi bikin aku makin bergantung ama Dia 'n ga mencari orang-orang buat fulfill my needs. Emang kita juga ga bisa hidup sendirian, God juga bilang ga baek kalo kita sendirian. Tapi kalo kita udah menggantikan posisi God ama orang-orang, itu tandanya udah ga balance penempatannya.


Tentang job, Kak Febri cerita tentang gimana selama dia kerja di hotel deket mangga dua itu, gimana God ngebuktiin kalo emang pembelaan 'n promosi itu datengnya dari Dia. Kak Febri pernah ngalamin perlakuan ga adil dari rekan kerjanya tapi akhirnya malah dipromosiin naek jabatan. Trus waktu God suruh dia resign dari hotel itu, dia kan sempet diminta ngajar anak tetangganya, sebulan cuman dapet 40 rebu. Waktu dia nanya ke God (coz kan God yang nyuruh dia resign trus gimana kalo pendapatannya malah jadi cuma segitu), dia minta jumlah minimal penghasilan perbulan... and know what, ternyata itu langkah awal dia buat profesinya saat ini, 'n penghasilannya dah berkali lipat dari jumlah minimal yang dia minta ke God. Ternyata lagi, profesi dia sekarang itulah yang dulu pernah dia minta ke God. Dulu dia gatau kalo yang dia minta itu profesi guru privat / ngajar. Dia cuman minta pengen kerjaan yang ga usah pake seragam, bisa pake jeans 'n sneakers, trus bisa ketemu bule, ketemu banyak orang... 'n itulah yang lagi dia jalanin sejak dia jadi pengajar.


Dia encourage aku untuk ask aja ke God kerjaan kayak gimana yang aku pengen. Aku bilang ke dia aku pernah, aku pengen lewat tulisanku banyak orang tau kebenaran, pola pikirnya jadi bener, terinspirasi, bisa jadi saluranNya... and itulah yang mulai aku jalanin sekarang di sini... Cuman perlu diperluas lagi I guess... you know what? Belakangan ini aku kan dah sempet mikir 'n planning about going back 'n cari kerja di Surabaya, apa aja asal aku masih bisa nge-blog... But ternyata setelah ngomong-ngomong ini aku jadi tau kenapa setiap aku coba planning itu kayaknya masih blur 'n ngawang... I just can't figure it out... The truth is, aku mencoba menyangkal His purpose in me dalam masa (rentang waktu) ini... Aku jadi makin sadar bahwa emang itulah satu-satunya hal yang aku pengen, nulis... I can't run from that... Aku kudu enjoy 'n hidup sepenuhnya di masa ini... If someday He wants me to go back, He will let me know... tapi aku kudu bener-bener berpijak 'n maksimal dalam rentang waktu selama aku di sini...


Kak Febri cerita dia pernah ikut jajak pendapat salah satu majalah 'n menang, pernah juga ngirim tulisan 'n dimuat... Dia encourage aku mulai ngirim tulisan... Ini bukan saran yang pertama kali, tapi gatau knapa baru kali ini aku jadi bener-bener termotivasi hehehe... I have no regret, aku bakal mulai hunting majalah-majalah apa aja yang buka kesempatan, walau itu cuman jajak pendapat, yang penting nulis dulu, jadi terkenal dulu... dari sana God pasti make a way kalo emang ini destinyNya buat aku. Or maybe promosiNya dateng in some ways yang ga pernah aku bayangin sebelonnya... I dunnow, all I know is He is The Director of my life, The One who has created me with a purpose, and I wanna live in that purpose, fulfill all His plans upon my life...

Quote Penting Menulis

"Jangan Pikirkan apa yang akan Anda tulis, tapi tulislah apa yang ada dalam pikiran Anda"
(
Anis Matta)


Menulis Sebagai Profesi

Menulis Sebagai Profesi
oleh
Yon's Revolta

Barangkali, belum banyak orang yang berpikiran untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai profesi. Bergelut dengan kata, menghasilkan karya-karya (entah itu tulisan fiksi maupun non fiksi) dan mendapatkan keuntungan finansial darinya-- sebagai imbalan atas kerja yang telah dilakukannya. Mereka mengasilkan tulisan-tulisan yang di publikasikan melalui media massa (koran, majalah, tabloid), media online (internet), maupun media cetak seperti buku, jurnal Ilmiah dll.
Layaknya profesi lain, setiap hari, seorang penulis selalu menulis dan menulis sebagai konsekuensi atas profesinya itu, walaupun di hari-hari tertentu, mereka tidak melakukan aktivitas menulis, tetapi mengantikannya dengan aktivitas membaca atau mengamati lingkungan sekitar (riset) yang tentunya sangat terkait dan mendukung profesinya itu.

Masih sedikitnya orang-orang yang menjalankan profesinya sebagai penulis—tentunya menjadi ladang tersendiri—khususnya bagi generasi muda-- untuk menggarap dan berkiprah didalamnya. Setidaknya, profesi seorang penulis ini bisa menjadi alternatif pilihan kerja seseorang. Apalagi, untuk menjadi seorang penulis yang baik dan produktif, tidak harus memiliki ijasah tertentu dari pendidikan formal di Indonesia (misalnya harus sarjana dll). Orang yang tidak mengeyam pendidikan formal pun berhak menjadi seorang penulis yang baik dan produktif, karena masyarakat sendiri yang akan memberikan penilaian atas karya-karya yang dihasilkannya.

Banyak contoh orang-orang Indonesia yang total menggeluti profesi sebagai seorang penulis. Sebut saja Remy Sylado (Novelis) yang terkenal dengan novel-novelnya seperti “kerudung Merah Kirmizi”, “Co Bau Kan”, “Paris Van Java”, Gola Gong, yang dikenal dengan karyanya “Balada Si Roy”, Ahmad Tohari, dikenal melalui karyanya seperti “Ronggeng Dukuh Paruk”. Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia yang dikenal dengan cerpen dan novel Islaminya dan juga Onno W Purbo yang total menggeluti profesi seorang penulis buku-buku teknologi informasi setelah memilih keluar sebagai dosen ITB Bandung. Itu hanya contoh kecil saja, mereka ternyata bisa hidup layak dan cukup dengan bekerja sebagai seorang penulis. Belum lagi, banyak juga para penulis yang produktif menjadi kolumnis di media-media online, majalah, maupun koran tertentu.

Sebagai gambaran pendapatan finansial. Seorang penulis cerpen yang di muat di salah satu koran lokal, akan mendapatkan honor Rp 50 - Rp 150 ribu, di majalah atau koran nasional Rp 100 - Rp 500 Ribu. Tulisan berupa artikel atau opini, di koran lokal akan mendapat Rp 100 - Rp 300 Ribu, di koran nasional, mendapat Rp 200 - Rp 500 Ribu. Menulis satu novel atau kumpulan cerpan akan mendapat “uang lelah” Rp 3 – 7 juta dengan sistem beli putus. Atau bisa juga dengan sistem royalti sebesar 8-12%. Misalkan harga satu buku Rp 10.000,, taruh saja royaltinya 10 %, berarti 10% x Rp 10.000 = Rp 1.000. Jika buku yang terjual 3000 eksemplar, maka akan mendapat royalti sebesar Rp 1000 x 3.000 = Rp 3.000.000.
Itu gambaran sepintas “gaji” penulis. Ada yang berpendapat, seorang penulis di Indonesia tidak akan bisa hidup layak. Berani menceburkan diri dan serius menekuni dunia tulis menulis berarti siap menjadi “kere” alias Madesu (masa depan suram). Orang boleh-boleh saja berpendapat seperti itu, toh semua pekerjaan tergantung kadar keseriusan. Seorang penulis skenario misalnya, jika sukses, bisa mendapatkan berjuta-juta rupiah ditangan.

Sebagai gambaran tentang suksesnya para penulis, akan saya ceritakan beberapa diantaranya; (Ada dalam “Buku sakti menulis fiksi”)

Asma Nadia : Dalam kurun waktu empat tahun 23 bukunya (novel dan kumpulan cerpen) telah terbit. Salah satu bukunya “Rembulan dimata ibu” mendapat penghargaan IKAPI sebagai buku remaja terbaik. Beberapa motivasi yang senatiasa membuatnya menulis adalah untuk berjuang lewat pena karena banyak terlalu banyak buku-buku yang merusak moral anak muda, motivasi lain--untuk berbicara dan menyampaikan protes pada puluhan ribu orang dan juga sebagai amal jariyah, katanya” Semoga buku-buku yang dihasilkan dengan keikhlasan bisa mengalirkan amal bagi kita setelah mati” begitu kata penulis yang bernama lengkap Asmarani Rosalba.

Hilman “Lupus” Hariwijaya : Hilman, sukses menghasilkan seri Lupus sekitar 30 buku dan jutaan eksemplar buku terjual, katanya “remaja butuh idola”, akhirnya tokoh Lupus pun bisa muncul dalam karya-karya serinya. Di lain kesempatan, Hilman menginginkan, setiap remaja menjadikan aktivitas membaca sebagai sesuatu yang mengasyikkan, bukan Cuma basket, nonton dan sebagainya.

Barbara Cartland : Dia adalah seorang penulis yang bukunya terjual sebanyak satu miliyar buku dalam 36 bahasa. Dia, dikenal sebagai “Queen of the Romance Novel karena novelnya memang banyak bercerita tentang kisah-kisah romantis dan menampilkan kehidupan bangsawan Inggris. Dia dapat menulis novel dalam 7 hari.

JK “Harry Potter” Rowling : Dari menulis, kekayaannya melebihi Ratu Inggris, Elizabeth II. Rowling telah menjual bukunya sebanyak 250 juta eksemplar, terbit di 200 negara dan di terjemahkan dalam 61 bahasa. Itu hanya beberapa contoh saja, Fauzil Adhim juga sukses dengan buku-buku pernikahannya. Jujur Prananto, sukses dengan skenario “Ada Apa dengan Cinta” nya.

Beberapa contoh diatas adalah orang-orang yang sukses di dunia kepenulisan. Dan kita, tentunya mempunyai cara tersendiri untuk menjadi penulis sukses seperti mereka. Bakat dan minat tentang tema tulisan, bentuk tulisan, kita sendiri yang tahu. Tinggal sekarang, bagaimana mengolah potensi yang ada dalam diri kita itu dan bekerja keras jika benar-benar serius untuk menjadi seorang penulis. Ini penting, karena di dunia tulis menulis, tak ada tempat bagi pemalas.

OK, selamat menulis...!

~Berjoeang Dengan Pena~

http://penamuda.multiply.com
http://penakayu.blogspot.com


Sumber: milis penulislepas

Friday, July 28, 2006

Blognya Juli (JDCer)

http://www.cute-batavia.tk/

Kepahitan 'n Hati

Dapet pas blogwalking, dari blognya mbu's:


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.

Ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah." Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Thursday, July 27, 2006

Online Encourager Community Part 2

Today... abis bikin puisi aku buka email, eh ternyata ada reply dari Veranita tentang postingan di blog-ku kemaren yang judulnya "When Syndrom Comes Super-J is Here". Serasa nemu temen senasib hehehe... sama-sama introvert, sama-sama pernah ngalamin (cuman aku belon tau detailnya...) Kapan-kapan share stories yo Ver?


Yang paling susah dilakuin tapi kudu dilakuin juga: "kita sendiri yang harus berusaha menempatkan diri supaya orang lain pun tidak merasa asing dengan diri kita." And yang jadi bikin aku yakin lagi buat terus walk in faith is: "Tentang pekerjaan- jangan terburu-buru untuk mengambil keputusan, terkadang situasinya membuat kamu terjepit, seperti seakan2 pengen quit the job, tapi biasanya suara Tuhan itu tidak menyatakan untuk terburu-buru untuk mengambil keputusan, dan seandainya Dia menyatakan kamu harus berhenti, kamu akan dikasih kemantapan untuk keluar. Memang Tuhan itu kerjanya tidak bisa kita atur, tapi kerja Tuhan itu teratur dan terpola." Filipi 4:4-6 itu klik banget... yang ntar hasilnya Filipi 4:7  Itulah yang ilang dari aku akhir-akhir ini...


Trus aku sempet explore 'n buka salah satu tulisan di blognya Andry yang judulnya "God's Plan"... Buset kena semua... Terutama tentang "Dont Worry" ama cerita temennya yang melihara burung merpati itu (pas banget kalo dibilang merpati lambang Roh kudus): "Saya punya teman yang punya burung merpati. Biasanya burung itu di taruh di dalam sangkar terbuka sedikit di atas pohon. Suatu hari, burung itu tidak mau masuk ke dalam sangkarnya. Padahal biasanya tanpa disuruhpun dia sudah masuk ke sana sebelum gelap. Tapi hari itu, entah kenapa, meskipun sudah di paksa masuk, burung itu keluar lagi dan berjalan mondar-mandir di tanah. Teman saya akhirnya naik ke atas sangkar dan betapa dia terkejut! Di sana ada ular! Setelah dia mengeluarkan ular itu, si Merpati masuk dengan sendirinya."


Diz is why aku kasih judul "Online Encourager Community Part 2"... Coz walopun cuman ketemu secara online, lewat blog pula, tapi bener-bener bisa saling ngedukung 'n nguatin satu sama laen... Semua jadi bikin aku tambah amaze aja ama Dia... Thanx a lot ya Ver 'n Dry...