A, wanita, lajang, 26 tahun, pengusaha
Sejak kecil cita-cita saya menjadi seorang pengusaha sukses, mempunyai kehidupan yang mapan dan mandiri sebelum saya menikah. Saya pikir itu adalah sebuah rencana yang hebat. Dan memang saya sudah menjadi seorang wanita yang hebat diusia saya yang bisa dibilang muda. Saat berumur 26 tahun perekonomian saya sudah sangat mantap. Saya mempunyai sebuah usaha pribadi yang menjadi aset utama saya dan bisa memenuhi seluruh kebutuhan saya mulai dari kebutuhan primer, sekunder sampai tersier. Tetapi begitu saya diperhadapkan dengan usia saya yang mulai merambat tiap tahun menuju kematangan jasmani, saya mulai merasakan ketakutan yang lain. Teman lelaki seumuran saya yang sekiranya sepadan dan seimbang dengan saya, kebanyakan sudah menikah dan berkeluarga. Saya kesulitan mencari seorang yang tepat buat saya. Sementara itu desakan orang tua saya dan keluarga untuk segera menikah mulai terasa mengusik saya.
B, wanita, lajang, 25 tahun, karyawan swasta
Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan sudah mempunyai seorang lelaki sebagai kekasih saya. Saya dan kekasih saya sudah menjalin hubungan selama setahun belakangan ini dan berkeinginan untuk segera melangkah ke jenjang pernikahan. Kekasih saya sudah bekerja juga. Tetapi yang menjadi penghalang untuk segera mewujudkan keinginan kami adalah masalah ekonomi. Pendapatan kekasih saya dan saya sendiri jika digabungkan masih terlalu minim untuk hidup berkeluarga secara layak di kota Jakarta. Baik saya maupun kekasih saya untuk hidup sendiri-sendiri saja masih harus sama-sama mengencangkan ikat pinggang. Bagaimana mungkin kami bisa segera melangsungkan pernikahan dan hidup berkeluarga dengan layak jika perekonomian kami saat masih lajang saja sulit diatur ?
C, pria, menikah dengan dua anak, 27 tahun, karyawan swasta
Dalam usia saya yang 27 tahun, saya sudah memiliki apa yang saya impikan sejak dulu. Saya sudah menikah dan mempunyai dua orang anak. Hidup saya rasanya sempurna jika saja beban pekerjaan saya tidak membuat saya khawatir. Perusahaan tempat saya bekerja mengalami defisit keuangan dan hendak melakukan perampingan karyawan. Sekarang hidup saya serasa ada diujung tanduk. Saya takut jika rencana perumahan karyawan tersebut jatuh kepada saya. Istri saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dan saya adalah satu-satunya tulang punggung bagi keuangan keluarga saya. Selama ini gaji saya hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari keluarga kami. Dan jika nantinya saya terpaksa tidak bekerja, saya sangat takut menghadapi kenyataan tentang masa depan saya, keluarga, dan anak-anak saya yang masih balita.
D, wanita, menikah, 28 tahun, ibu rumah tangga
Menjadi seorang ibu rumah tangga adalah keinginan saya. Saya sungguh berbahagia mempunyai seorang suami yang baik dan secara finansial dia sudah mapan. Mulai tahun pertama pernikahan kami semua membuat saya puas akan hidup saya. Tetapi tiba-tiba sebuah vonis dokter atas saya membuat hidup saya serasa terhenti. Dokter memvonis ada benih kanker bersarang di otak saya. Dan sejak saat itu hidup saya selalu dihantui ketakutan. Bukan lagi sebuah hidup bahagia dan normal bersama suami dan keluarga saya. Tetapi hidup yang diwarnai kemoterapi tiap sebulan sekali, obat-obatan, dan perasaan takut meninggal. Saya takut jika suatu saat saya memejamkan mata ini dan saya tidak lagi melihat suami yang saya cintai ada disisi saya saat terjaga kembali.
E, pria, menikah dengan dua anak, 42 tahun, karyawan swasta dan pengusaha
Masa muda saya begitu kelam. Saya menghabiskannya dengan merokok, minum minuman keras, dan juga berhubungan dengan kuasa gelap. Ketika saya sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, Yesus mulai menjamah hidup saya. Saya berkeinginan untuk kembali ke jalan-Nya. Hidup dengan cara yang benar dan mendidik anak-anak saya agar mereka tidak menjalani hidup yang sama seperti saya di masa muda. Tetapi menjadi benar di mata Dia itu sungguh sulit. Sering kali saya masih terusik dengan kuasa gelap yang pernah menjadi gaya hidup saya dulu. Dan itu menjadi beban tersendiri bagi saya.
F, wanita, lajang, 19 tahun, pelajar
Saat ini saya sedang minimba ilmu di sebuah universitas terkemuka di kota Jakarta. Di bangku kuliah bisa dibilang saya menguasai seluruh materi yang diajarkan dosen. Dan bagi saya pelajaran dan biaya kuliah bukanlah beban berat bagi saya untuk terus berprestasi. Tetapi keberadaan Papa saya yang tidak sebagaimana mestinya seorang ayah memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya membuat saya lelah menjalani hidup ini. Saya ingin berontak dari keluarga saya. Saya ingin lari dari rumah dan menjadi orang lain. Saya kecewa dengan Papa saya.
G, pria, lajang, 27 tahun, karyawan swasta
Saya bekerja disebuah perusahaan bonafit. Diumur saya yang relatif muda saya sudah mempunyai hidup yang sangat mapan. Saya mencintai pekerjaan saya meskipun hal itu sering kali merampas waktu saya untuk bersenang-senang menikmati hidup seperti manusia normal yang bekerja hanya 8 jam sehari. Tempat kerja saya lokasinya jauh dari jangkauan manusia. Hal ini membuat batu sandungan bagi hubungan saya dengan wanita manapun. Berkali-kali jalinan hubungan cinta saya terpaksa kandas ditengah jalan karena wanita yang saya kasihi ternyata justru memanfaatkan saya untuk mengeruk uang saya dengan kondisi pekerjaan saya yang sering diluar jangkauan manusia itu. Sampai sekarang pengalaman itu membuat saya takut untuk mengenal seorang wanita lebih dari sekedar seorang teman. Karena pengalaman saya selama ini membuktikan bahwa tidak ada wanita yang bisa menerima saya apa adanya kecuali uang dan harta saya.
* * *
Jika saat ini anda merasa terbeban berat atas hidup anda dan menemui jalan buntu, saya memberikan berbagai ilustrasi dari percakapan saya dengan beberapa orang yang saya kenal dalam perjalanan hidup saya. Mereka adalah manusia dengan berbagai latar belakang usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan juga kepribadian yang berbeda-beda.
Saya yakin bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap manusia mempunyai ketakutan dan juga beban yang mereka bawa selama menjalani hidup ini. Entah itu masalah keluarga, keuangan, relationship, atau juga hubungan kita pribadi dengan Tuhan kita Yesus Kristus.
Saya juga mempunyai salib yang harus saya pikul setiap hari. Saya mempunyai ketakutan tersendiri dalam hidup saya yang terkadang membuat saya bosan untuk menggumulinya terus menerus. Terkadang saya juga terjatuh dan menyerah kepada Tuhan, meringkuk di bawah kaki-Nya dan memohon agar saya dilewatkan dari beban-beban saya tersebut.
Tetapi apakah tindakan saya tersebut benar ?
Bayangkan jika semua manusia di dunia ini termasuk anda dan saya merasakan sukacita terus tanpa sebuah penderitaan, apakah kita akan terpikirkan untuk mengusahakan yang terbaik sehingga kita bisa masuk ke Kerajaan Surga pada akhirnya ? Jika anda dan saya betah di dunia tentu anda tidak akan pernah mau meninggalkan dunia ini bukan ? Padahal hidup di dunia ini hanyalah sementara. Hidup kita yang sesuangguhnya ada di Surga bersama Bapa kita yang kekal.
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Lukas 9:23)
Apapun salib yang Tuhan beri kepada anda hari ini - ketakutan anda tentang keuangan, keluarga, pekerjaan, study, relationship, atau sakit penyakit anda - semua itu adalah sesuatu yang harus anda kalahkan. Hidup diberikan oleh Tuhan untuk kita kalahkan, bukannya kita yang harus menyerah kalah pada hidup.
Ketika kita mulai menyadari apa yang menjadi salib bagi kita dan mulai menyerahkan salib itu kepada Tuhan sendiri untuk memikulnya bersama kita, saat itulah kita akan tahu apa makna hidup ini yang sesungguhnya. Hidup bukanlah sekedar hembusan nafas yang keluar dari hidung kita dan kita melewati fase-fase dalam kehidupan dengan normal, seperti kita harus melewati fase bayi - anak-anak - remaja - dewasa - tua, lajang - pacaran - tunangan - menikah, sekolah - bekerja - pensiun, dan fase-fase kehidupan yang lain.
Tetapi yang benar adalah : didalam setiap fase kehidupan yang harus kita lewati tersebut, kita harus menggali pesan-pesan Agung-Nya yang berharga setiap saat. Salib yang Dia beri kepada kita itu tidak akan melebihi kekuatan kita. Dan salib itu digunakan untuk semakin mendekatkan firman-Nya, janji-janji-Nya, dan mukjizat-Nya kepada kita.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Matius 11:28-30)
Ketakutan kita tentang sesuatu yang mendalam itu sebenarnya tidak beralasan. Karena didalam Dia kita bisa meraih kelimpahan atas semua kebutuhan kita. Dan makna hidup itu akan ada jika kita berjalan selalu bersama Dia. Semua orang menerima bagian yang khas dari Dia. Semua manusia pasti mempunyai salib yang harus dipikul, pasti mempunyai ketakutan, pasti mempunyai beban berat, pasti melalui penderitaan. Jadi jangan pernah membandingkan diri anda dengan orang lain.
Semua orang harus memikul salibnya. Sama seperti Dia memikul salib-Nya menuju bukit Golgota yang akhirnya bisa menyelamatkan dunia. Anda juga bisa mengubah salib anda menjadi berkat bagi orang lain jika anda mau melakukannya.
Yang membedakan antara orang menang dan orang kalah bukanlah darimana mereka masuk kedalam pencobaan, tetapi bagaimana cara mereka keluar dari masa pencobaan itu. Pandanglah berkat-berkat anda dan mulai bersyukur. Tinggalkan beban dibawah kaki Yesus dan mulailah memikul salib, mengalahkan hidup.
Sumber: copied from Enjie's multiply - it knocks me ^_^ thanx Jie..